MOBILE ADDICT, SO SERIOUS KAH?

MOBILE ADDICT,  Se Serius itu kah?

Tulisan yang dibuat oleh Jericho dari perspektif remaja tentang kecanduan gim kemarin membuat saya ingin menuliskan Kata dan Rasa di hari ke dua ini mewakili generasi Babe die…

Sedikit banyak ketika kita bicara tentang Mobile Addiction, atau kecanduan ponsel, yang jadi tersangka pasti generasi muda. Kebetulan saja trend ML (Mobile Legends) saat ini adalah sasaran empuk untuk menembak kalangan remaja walau sebenarnya semua kalangan. Sekaligus menghakimi mereka atas kegagal pahaman kita tentang komunikasi antar generasi. Siapa sih tidak kesal, ketika kita mengantar ke sekolah pun, jangankan yang naek mobil, dibonceng naik motor pun di belakang remaja andalan masa depan kita itu anteng diam dengan earphone terpasang dan dua tangan asyik memainkan gim online, padahal itu sudah menuju ke sekolah. Disapa tidak mendengar, mata tidak lepas dari layar, dan menjawab pertanyaan sekenanya. Wajar saja, generasi ortu sekarang begitu geram melihat ini, tapi juga gelisah karena tidak tahu bagaimana mengatasi itu. Karena hanya sekedar bersikap tegas, melarang, dan keras itu bukanlah solusi komunikasi yang baik. Karena seolah-olah memposisikan kita dalam generasi bijak yang seolah tahu mana yang terbaik.

Generasi jaman Now, semua memegang ponsel dan perhatian kita tiba-tiba gelisah melihat generasi muda yang sibuk memainkan dan kecanduan  gadget. Beberapa negara yang maju sudah mulai mengangkat isu ini sebagai sesuatu yang sangat serius beberapa artikel bahkan menuliskan tentang gejala-gejala kecanduan ponsel ini,  bahwa Generasi muda sangat rentan pada kecanduan ponsel, otak manusia belum berkembang sepenuhnya sampai usia 25 tahun, sikap ketergantungan pada ponsel ini sangat berisiko pada perubahan yang negatif seperti yang sering kita lihat bersama:  Susah konsentrasi, tidak nyambung, problem gadget menjadi lebih serius dibanding kondisi badan sendiri. Remaja dengan ketergantungan ponsel sudah mulai dikategorikan seperti halnya kecanduan alkohol, riokok, dan kacaunya pola makan. Belum lagi masalah isolasi dari masyarakat sosial.

Beberapa pihak yang mengangkat hal ini pun mulai menawarkan berbagai solusi dari berbagai tips, sampai terapi pada generasi muda kita, apalagi bila gejala-gejala berikut sudah terjadi:

  • Gelisah bila batre ponsel mulai habis
  • Lebih suka terkoneksi secara online daripada berjumpa kawan-kawannya
  • Panik ketika ponsel lupa naruh entah dimana, atau tidakmendapat jaringan/koneksi wifi yang baik.
  • Tidur dengan ponsel di sebelah atau malah dibawah bantal, dalam posisi ter charge.
  • Menyetir sambil memainkan ponsel
  • Saat makan pun tidak bisa melepas mata dari ponsel.
  • Gelisah, sedikit-sedikit menoleh ke ponsel , mencari tahu siapa yang menghubungi. Padahal situasi tidak urgent.

 

Setelah membaca gejala di atas, ternyata problemnya bukanlah ada pada generasi di bawah kita saja. Jangan-jangan kita pun punya masalah yang sama, kenapa? Karena di saat yang sama, kita membeli smartphone, kita juga membelikan anak kita teknologi yang sama, dan kita punya waktu yang sama pula untuk mengurusi ponsel masing-masing daripada berkomunikasi antar generasi dengan cara yang lebih manusiawi?

Mari introspeksi bersama, bagaimana kalau kita berjujur kata pada generasi di bawah kita. Berapa banyak waktu yang kita pakai dulu untuk memainkan game baik itu dalam komputer maupun playstation? Nintendo? Tergantung umur lah, tapi u know what I mean kan? Bisa seharian kita berjam-jam memandang layar teve, apalagi yang pada ngekos jauh dari rumah, diam-diam menyisihkan uang dan waktu hanya untuk bermain console game, di gane centre sampai pagi, baik bersama teman-teman maupun sendiri, menimkati me time yang sampai mengabaikan kuliah, membolos, dan segala kenakalan remaja, yang seolah dulu tidak pernah kita lakukan. Siapa yang memprotes kita? Jelas saja, nilai sekolah, prestasi, karena semua itu harus terbayar dengan kewajiban belajar kita saat itu. Bedanya console game tidak mudah dibawa kemana-mana, dan memang kita sedang berhadapan dengan jaman yang baru. Tapi bukankah kita semua mencapai titik berhenti bermain semua itu, alias sebagian dari kita punya kemampuan dan pengalaman keluar dari adiksi ini.

Beberapa tempat sudah menawarkan bagaimana keluar dari permasalahan adiksi ponsel yang selalu saja kita cari pembenarannya, dan kita tahu bahwa inilah perkembangan teknologi yang tidak bisa kita hindari. Tapi problem kecanduan ini pun sebuah masalah yang nantinya akan menjadi serius di kemudian hari. Peraturan-peraturan berhenti berponsel, matikan ponsel, silence mode please, itu akan menjadi sama kerasnya dengan peraturan Jangan merokok. Pertanyaannya bisa kah kita mempraktekkan ini dulu? Rehat dari ponsel kita, untuk waktu yang tertentu. Relaks dan membuang semua sampah informasi yang tidak perlu, lewat relaksasi dan meditasi, mengurangi waktu kita bersosial media dan beralih untuk berkomunikasi secara sosial, membangun pertemanan yang positif dan tentunya diharapkan akan menjadi produktif. Sepertinya ini bukan hanya cara kita memandang generasi muda, tapi momentum untuk mengkoreksi diri kita bersama.

By Tunggul Setiawan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *