PULANG dan MAAF

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home

Maybe surrounded by
A million people
I Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

(Blake Shelton- Home)

Mulai beberapa hari ini hampir di setiap media kita bicara tentang pulang. Puluhan ribu kendaraan umum plus kendaraan pribadi mengangkat jutaan masyrakat negeri ini untuk pulang, dengan istilah mudik. Memang budaya urban, merantau di negeri yang sangat luas ini membuat siapapun bisa bekerja, punya kehidupan di tempat yang tersebar di Nusantara jauh di dari kampung halaman. Momentum libur Lebaran ini dipakai untuk melakukan acara ritual tahunan bagi sebagian orang untuk kembali pulang, menjumpai keluarga, kerabat, rumah, kampung halaman.

Memang kalau kita bicara hanya dari sisi logika, ngapain susah-susah berduyun berdesakan, bermacet ria di jalanan, membeli tiket yang tidak murah, berisiko tinggi menyetir dari kota besar menuju kampung halaman, padahal di jaman ini teknologi bisa saja menjangkau siapa saja hampir di seluruh pelosok negeri. Kita bisa berkomunikasi dengan mudahnya, tiket harian juga tidak semahal itu, bila memungkinkan pulang bisa kapan saja, lalu kenapa harus di momentum Lebaran ini?

Motivasi pulang, mudik, ini bisa berjuta cerita, seiring laju pergerakan kendaraan yang meninggalkan kota untuk kembali ke desa asal. Kangen, rindu, memang sudah lama tidak pulang, dalam perantauan? Menunjukkan pada keluarga bahwa sekarang berada dalam kondisi berhasil dalam perantauan, memberi cerita sukses pada keluarga, kerabat, atau memang berbagi berkah karena tidak hanya berhasil tapi juga layak dibanggakan keluarga. Walau selain itu cerita-cerita mereka yang kalah juga tidak jarang. Mereka pulang karena memang harus pulang.. karena tak mampu bersaing menghadapi kerasnya kehidupan urban, dan pulang adalah yang paling logis. Terlepas dari semua cerita yang bisa sangat beragam itu, tujuannya adalah sama, kembali pulang…

Harus diakui ini adalah momentum yang spesial, bagi sebagian besar yang berpuasa menjelang Hari Raya ini, dan juga bagi mereka untuk berkumpul bersama keluarga. Berkumpulnya kembali dalam sebuah kehangatan keluarga, kawan, sahabat, masa kecil, bukankah itu memori yang indah, yang menggerakkan dan membangkitkan kembali kemanusiaan-kemanusiaan kita, yang kadang sudah tergerus oleh kemajuan dan rutinitas harian dan kerasnya kehidupan di kota. Hari ini bisa kembali menikmati suasana di desa, di mana kita merangkai kembali fragmen masa kecil, atau suatu memori dan nostalgia yang layak disusun kembali. Atau memang inilah momentum untuk menyatukan makna keluarga dalam arti sebenarnya, dalam kebersamaan, kegembiraan, saling mengunjungi, saling bersilaturahmi, dan yang paling penting adalah tradisi budaya saling memaafkan. Ini sungguh luar biasa.

Bagian berikutnya setelah pulang adalah Saling Bermaafan. Ini punya efek yang dahsyat..bukan hanya antar komponen masyarakat yang terkecil yaitu keluarga dan kerabat. Tapi juga punya efek luar biasa pada kita sebagai bansa yang besar. Saling memaafkan walau serius atau tidak, akan menyelesaikan banyak problem yang sebenarnya memang bisa diselesaikan dengan itu. Walau  bukan berarti kita melupakan begitu saja kesalahan yang ada sehingga tidak ada teladan yand dipetik dari sebuah peristiwa. Bangsa ini boleh jadi pemaaf, tapi tetap tidak boleh memaafkan korupsi, terorisme, narkoba, bullying, penyebaran kebencian, fitnah,.. yang terus saja dan masih terjadi. Peristiwa-peristiwa pilu menjelang bulan Ramadhan begitu menyakitkan hati bagi warga bangsa ini. Tidak ada pemakluman dengan standar kemanusiaan yang bisa melihat bahwa tindakan-tindakan seperti kekerasan pada kemanusiaan haruslah ditindak tegas. Memang manusia bisa salah, secara kemanusiaan kita bisa saling memaafkan, tapi biarlah sistem hukum terus dan tetap bekerja.

Tapi saya percaya, para sahabat yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang baik, yang punya kekuatan untuk memaafkan. Apalagi kesalahan-kesalahan saya selama ini, yang selama ini tidak saya sadari. Biarlah dalam momentum kembali pulang ini, mari kita pulang bersama, mudik menuju kemanusiaan-kemanusiaan kita, sehingga kita bisa saling memaklumi bahwa kita bisa saja salah dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup. Tapi Keberadaan selalu memberikan jalan yang lapang untuk kembali memperbaikinya kembali…

Akhir kata. Mohon Maaf Lahir Batin Kawan.

Selamat Pulang. Selamat Lebaran 2018 1439H. Selamat Liburan..

Minal Aidin Walfaidzin.. Mohon Maaf Lahir Batin.

Rahayu, Anandam.

2 thoughts on “PULANG dan MAAF”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *