TERORIST = ATHEIST?

Teringat peristiwa sebulan lalu, serangan terorisme di Surabaya dan beberapa tempat di Indonesia. Serangan Teroris di Jawa timur, berupa bom bunuh diri menyasar target tempat ibadah di Surabaya. GILA. Ngeri Man.., Serangan bom, di suatu area dalam waktu sesingkat itu. Parahnya adalah bom bunuh diri bom itu meledak di tempat ibadah. Iya, gereja. Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Jemaat Sawahan. Tiga gereja dalam waktu bersamaan di bom oleh keluarga ‘baik-baik’ terdiri dari  suami, istri dan empat anak yang disinyalir pernah pulang dari medan perang di Suriah menurut Kapolri. Parah yah?

Kali ini gw mau bahas tentang kata orang setelah serangan teroris yang menewaskan dua puluh delapan orang termasuk para pelaku ini, yang katanya ‘Terorisme tidak memiliki Agama’. Well, kalo tidak memiliki agama menurut gw ada yang salah di sini, mungkin persepsi masyarakat memang mau diarahkan pada “Terorisme tidak berdasarkan Agama”, karena mana ada kan ya agama yang melukai sesama umat maupun umat beragama lainnya? Untuk menjaga iklim kondusif di masyarakat, supaya tidak saling tuding. Masalahnya adalah meskipun terorisme kemudian dicap tidak berdasarkan agama, mereka yang melakukannya pasti memeluk suatu agama, dan ketika agamanya ditunjuk mereka akan keberatan kalo agamanya disebut sebagai  motif terorisme. Emang sih enggak, Cuma pelakunya memeluk agama. Targetnya pun tempat Ibadah beragama. Coba deh kita pikir bareng bareng, mereka melakukan hal itu untuk apa? Motifnya cuma supaya bisa masuk surga? dan ketemu bidadari? As simple as that? Tapi a carannya sangat tidak tepat very-very wrong.

Apa sih Terorisme itu? Menurut wiki, Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Nah, yok kita gali lagi beberapa abad kebelakang, dimana para terorisnya justru petinggi suatu agama dan begitu berkuasa menteror rakyatnya sendiri, di abad pertengahan, di mana gereja begitu berkuasa di Eropa. Perempuan tidak boleh berpendidikan, perempuan pintar malah dibakar, Perempuan belajar tentang perbintangan dianggap penyihir dan para ilmuwan dikejar-kejar dan dianggap sesat, masih banyak lagi. Kata Teroris sendiri berasal dari  bahasa Perancis La Terreur(cari sendiri artinya yak), dan kata terorisme sendiri baru terkenal sejak abad 19 setelah Revolusi Perancis. Dari beberapa hal tersebut gw bisa menyimpulkan bahwa teroris menerapkan pola perlawanan ideologis itu dipakai waktu sekarang untuk mencapai tujuan tertentu, gila yah? Menyelesaikan apapun  yang menentang keyakinan ideologis mereka dengan membunuh dan menteror.

Sulit sekali gw pahami, walau hanya menyampaikan isi otak gw, bukan untuk menyindir siapapun, bagimana bisa tindakan sebiadab itu masih terjadi saat ini. Makanya kita belajar itu.. it’s a must. Mumpung kita diberi kebebasan dan kemerdekaan untuk bisa belajar apa saja, berdiskusi apa saja dan berpendapat selama bertanggungjawab. Ini jangan sampe kita sia-sia kan deh.. mumpung gak ada yang bakar-bakar kita karena berpikir begini, walo begitu ancaman Bom masih saja mengintai siapa saja, karena targetnya acak kan?

Kembali lagi ke slogan ‘terorisme tidak mengenal agama atau tidak memiliki agama’. Kalimat itu dikatakan, ditulis, diketik dimana mana di Indonesia ketika serangan itu terjadi, menurut gw malah justru menunjuk kelompok tertentu, yaitu atheist. I’ve done some research, atheisme dilarang di indonesia, tidak boleh hidup di indonesia. Ketika para atheis sudah tidak boleh hidup di indonesia, mereka dituduh masalah terorisme, yang bener aja. Orang beragama pasti memiliki keyekinannya, tapi orang yang tidak beregama juga memiliki keyakinan atas mengapa mereka gk memeluk suatu agama. Jadi, janganlah mengatakan slogan tersebut, gantilah dengan yang lebih baik, Karena bagaimanapun juga tindakan biadab yang tidak manusiawi ini harus terus dilawan dengan cara yang lembut sampai yang keras.

Negara gk boleh kalah yow, jangan sampe nyerah, kasihan kita-kita dong..  karena menurut data Polisi, jumlahnya masih ada ribuan orang yang berpotensi menyerang negara kita sendiri, dan itu lebih tidak bisa dipahami lagi apabila motivasinya politik, atau malah agama lagi. Semoga Densus88, BNPT, BIN, Pemerintah dan Masyarakat semakin sadar hal ini, jangan sampai energi generasi muda yang begitu banyak ini akhirnya sia-sia karena dihabiskan untuk mengikuti radikalisme yang berujung pada potensi menteror bangsa kita sendiri. Hentikan potensi Terorisme dari diri kita, mari jadilah Jiwa Indonesia yang cinta tanah air dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Jericho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *