MELAWAN VANDALISME RELIJIUS

Pagi ini di WAG ada kawan memposting sebuah video tentang seorang ekstremis yang merusak patung di tengah kota. Telusur punya telusur sambil diskusi ternyata kejadiannya Desember lalu di sebuah kota di Algeria (Aljazair) yang mana kemudian video ini viral dan sampai juga ke sini. Seorang memakai jubah putih berjenggot tebal, berusaha menghancurkan sebuah patung perempuan telanjang yang sudah 125 tahun di situ. Salah satu Ikon kota. Ratusan orang berusaha menghentikan, melempar batu, sampai akhirnya dihentikan secara paksa. Bahkan kejadian ini jadi perhatian serius pemerintah Aljazair. Juga sebagai peringatan kepada negara-negara lain bahwa potensi vandalisme seperti ini selalu menghantui.

Saya pun flashback ke 11 Maret 2001 ketika CNN memberitakan bahwa dua patung Buddha di Bamiyan Afghanistan setinggi 53m yang sudah ada di sana sejak abad 4SM, telah luluh lantak, dihancurkan oleh kelompok ekstremis Taliban. Itu adalah salah satu peristiwa penghancuran budaya terbesar di era modern ini. Bagaimana jejak kebudayaan manusia, pencapaian nenek moyangnya sendiri dihancurkan atas nama kepercayaan masa kini.. dan dengan bangga mengumumkannya pada dunia, bahwa mereka adalah penghancur berhala. Ironis, selama dua millenium, patung itu ada di sana, dan baik-baik saja.. dijaga, dikagumi, dipelajari, warisan pencapaian kultural kemanusiaan yang agung.. begitu masuk era Taliban, dihancurkan dengan RPG dan Dinamit.. dunia pun hanya bisa menganga dalam kemarahan dan keputus-asaan.

Kegilaan hanya bisa dikalahkan oleh kegilaan yang lain, pasca tragedi WTC 911. Koboi Amerika pun datang menggempur Afghanistan dengan alasan mencari dan membasmi teroris.. memukul kelompok Taliban dengan korban jiwa yang tak terhitung, dan meninggalkan kekacauan yang tak kunjung reda sampai sekarang. Taliban kembali jadi gerilyawan yang setiap saat merongrong pemerintahan dengan aksi kekerasan dan terorisme. Lalu kembali ke Bamiyan.. mau diapakan? Dibangun kembali? Silahkan, tapi tidak di Bamiyan. Mengingat bukan hanya Taliban sekarang.. ada ISIS, Boko Haram, dan sejenisnya.. belum simpatisannya di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Penghapusan Sejarah, lewat perusakan jejak budaya seakan sudah dianggap wajar di sini dan terus masih terjadi. Belum ada perlindungan yang benar-benar serius untuk benda bersejarah yang memang bertebaran dari Sabang sampai Merauke ini. Berapa banyak patung, arca yang ditemukan lagi dalam keadaan utuh? Mungkin banyak.. tapi lebih banyak yang dirusak.. wajahnya dibelah, dimutilasi, dipenggal, atas nama apapun itu. Candi-candi terbengkalai dirusak, dicuri batu-batunya.. Kejadiannya kapan, tak ada yang benar-benar mau mengungkap kejahatan atas peradaban yang sudah berlangsung bergenerasi ini. Penurunan patung, pembakaran, vandalisme masih marak dilakukan sebagai aksi menang-menangan para pengecut yang dibungkus dengan label relijius.

Memang miris menyadari bahwa kita tidak bisa mempertahankan itu semua. Apalagi sampai bisa mempelajarinya dari puing-puing tersebut. Tapi untungnya DNA kita sebagai bangsa Nusantara masih punya memori yang kuat untuk diakses kembali. Gerakan dan Upaya menelusuri kembali jati diri, sebagai bangsa dan budaya tak bisa lagi dihentikan, apalagi pasca reformasi. Perubahan jaman yang sarat dengan bertebarannya kebohongan dan pembodohan ini, tidak mampu menghentikan pembelajaran yang terus terjadi dengan akselerasi sama.

Memang perlu kita merefleksi kembali peristiwa Bamiyan..Tapi jangan lupa bahwa kita sendiri sudah keteteran menjaga jejak-jejak budaya ini. Tanpa kesadaran berbudaya, apresiasi yang tinggi, bukan sekedar toleransi, dan semangat belajar yang tinggi, mustahil kita bisa mempertahankan budaya Indonesia tiga puluh tahun lagi.

Kejadian beberapa tahun lalu, di situs budaya goa Semar Dieng yang sering dikunjungi pelaku budaya untuk bersemedi dan bermeditasi dirusak. Pintunya dibuka paksa dan diacak-acak isinya dan patung Semar yang ada di rusak. Mau menyalahkan siapa? Tak ada CCTV di sana.. daripada ribet dipikirkan, kasus ini tak bakal selesai tanpa keterlibatan aparat negara. Tapi sudahlah.. apalah arti sebuah patung. Seorang sahabat datang dari Jakarta membeli sebuah patung Semar di Muntilan dan memboyongnya ke Dieng untuk di taruh di situ sampai selesai. Well.. ego, fanatisme dan kebodohan manusia bisa saja menghancurkan apa saja, tapi takkan bisa menghentikan penciptaan dari Bangsa yang terus berkarya, mencipta, dan menjaga Budaya.

Rahayu.. Anandam .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *