PROBLEM SETELAH KEMATIAN KITA?

Pagi ini membaca beberapa artikel tentang harga tanah makam di beberapa daerah yang cenderung naik dan terbatas. Saya jadi ingat diskusi bersama Jericho tiga tahun lalu, ketika bangsa ini berduka karena pesawat  AirAsia QZ8501 dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura terjatuh dan 153 penumpangnya dinyatakan meninggal dunia. Pencarian besar-besaran dilakukan, dan setelah beberapa hari, sebuah stasiun televisi saking semangatnya sampai melanggar etika, menyiarkan rekaman yang mengejutkan sekaligus membuat shock orang yang berharap pesawat itu masih bisa ditemukan dan korban ada yang selamat. Ternyata beberapa jenazah mengambang di lautan dan kemudian evakuasi dilakukan walau medan yang sulit karena di dasar lautan. Benar saja tidak semua jenazah akhirnya bisa dievakuasi dan dikembalikan pada keluarga. Bahkan setelah hari-hari berikutnya, bahkan akhirnya harus diikhlaskan.

“ Ric, (panggilan Jericho) kira-kira kalau saya ada di antara korban pesawat itu dan masih tertinggal di dalam pesawat, susah di evakuasi. Kamu sebagai pihak keluarga tetap menuntut evakuasi, atau bagaimana?”

Saya ingat Eric berpikir sebentar, dan akhirnya bilang “ Walau berat, tapi sepertinya memang harus direlakan, untuk tetap di sana saja, toh kondisi jenazah tidak akan lagi utuh. Lagipula akhirnya kalau harus dikremasi pun akhirnya dilarung kembali ke laut kan? Seperti kejadian-kejadian kapal tenggelam, dan itu tidak mengurangi rasa hormat kita kan ya? Mau gimana lagi?”

Saya pikir diskusi itu menyentuh permasalahan yang memang akan terjadi di masa depan. Ada dua ratus empat puluh juta orang Indonesia, termasuk saya dan anda kita semua pasti akan mati. Mungkin masalah tanah kubur ini akan menjadi semakin rumit, karena kita tinggal di tanah kepulauan dan bila saja satu orang membutuhkan minimal 1x2m, maka akan dibutuhkan lima ratus juta meter persegi semua untuk ritual penguburan dan itu akan bertambah terus.

Memang ritual penguburan ini tidak lepas dari budaya, kepercayaan, maupun agama setempat. Pernahkah kita berpikir, bahwa suatu saat tanah ini akan habis? Sekarang saja sudah banyak tanah kubur yang disewakan? Saya tidak membayangkan keluarga yang tidak lagi sanggup merawat perkuburan itu, atau anggota keluarganya jauh, atau memang sudah tidak ada lagi yang sanggup. Apalagi di keluarga etnis Tionghoa yang punya kuburan megah seperti itu dan ada puluhan. Butuh pendanaan yang kuat untuk melanjutkan tradisi itu kan?

Tak terbayangkan bila suatu hari nanti orang dikuburkan dalam posisi berdiri, atau dalam sebuah gedung bertumpuk, karena tanah yang semakin terbatas dan semakin tak terjangkau. Atau keluarga akhirnya harus merelakan tanah pekarangannya sendiri untuk penguburan. Butuh dua belas tahunan sampai tubuh menjadi tulang tengkorak, dan tengkorak terurai tanah, bisa ratusan tahun. Dengan kata lain memang ini akan jadi masalah bila dalam waktu ratusan tahun tidak ada yang merawat perkuburan ini. Dari perspektif yang berbeda hal ini, sepertinya tradisi dari kepercayaan lain terasa lebih siap menghadapi prosesi ritual kematian ini. Sebagian umat Hindu dan Buddha, Shinto Jepang, di Vietnam dan lain-lain melakukan kremasi sebagai jalan untuk membebaskan jiwa dari badan yang sudah dinyatakan mati, yang juga diterima oleh sebagian umat Nasrani sebagai solusi yang tidak kalah terhormat bagi mereka yang meninggal.

Hanya saja katakan tiap hari ada enam puluh juta lebih orang yang meninggal di dunia, seperempat atau seperlimanya saja di kremasi. Masih dibutuhkan seratus juta meter persegi setiap hari untuk menguburkan jenazah. So, kembali ke negeri kita tercinta di mana kita suatu hari nanti juga akan menempati satu kali dua meter itu? Atau ada solusi yang lebih bisa dibicarakan dengan keluarga mulai hari ini. Menurut sebuah sumber yang saya pernah baca, penguburan didasarkan pada kepercayaan kuno yang percaya, kalau apapun yang ditanam di tanah akan tumbuh kembali. Kita sebagai bangsa maritim, yang tinggal di kepulauan, seharusnya juga berpikir bahwa sea burial, ocean funeral sebagai sebuah solusi.

Bila kita percaya tanah akan menguraikan badan dan melepas jiwa seseorang, tentunya laut juga. Seperti pelepasan jenazah di tengah laut bagi angkatan laut atau seorang anak buah kapal adalah sebuah kehormatan. Atau kremasi sebagai pilihan yang cukup praktis bila tidak terhalang adat istiadat dan kepercayaan keluarga. Tapi kita punya kendali dan kehendak penuh menentukan kelaka badan ini mau diapakan bukan? Semua kembali pada pilihan kita sendiri. Bila saya ditanya, saya akan memilih kremasi, karena itu tidak akan membebani keluarga yang masih hidup, dan tidak perlu merawat kubur saya di kemudian hari, sekali lagi mari kita pikirkan bersama bahwa tanah kepulauan ini suatu hari akan habis hanya untuk menumpuk kerangka dari ratusan juta jenazah, dan cerita di atasnya sungguh akan kompleks.

Demikian Kata dan Rasa yang bisa saya tuliskan pagi ini..

Rahayu. Anandam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *