SAINS, AGAMA & KEMANUSIAAN

Masyarakat di dunia ini bisa dibagi sesuai pola pikirnya, secara Sains, secara Agama, dan Secara keduanya.. Berawal dari sebentuk kekhawatiran bila Ilmu Pengetahuan berkembang terus akan semakin meninggalkan Agama. Maka sebagian dari kita mematok program bijak dalam dirinya dengan mengutip Rshi modern Albert Einstein ”Science without Religion is Lame. Religion without Science is Blind.” Ini diamini dua tiga pihak, baik yang merasa berpihak pada Agama maupun yang berpihak pada Sains, maupun yang berpihak pada keduanya. Bagaimana dengan kondisi kekinian menghadapi perkembangan jaman?

Perkembangan begitu cepatnya, manusia lah yang tergagap-gagap mengejarnya, dan rata-rata berkembang di negara di mana Agama tidak lagi memegang kendali penting. Perkembangan yang menyeluruh di bidang apapun dari teknologi, informatika, sampai kedokteran, botani, ekonomi membuat agama begitu terdengar so yesterday. Ibarat handphone yang OS nya tertinggal begitu jauh, sementara program dan sistem baru terus muncul dan update terhadap perubahan jaman.

Kebebasan berpikir, keluar dari belenggu conditioning yang membatasi membuat manusia berani menembus batas-batas ilusif yang diciptakan atas nama apapun termasuk agama maupun moral sekalipun dan terus diperdebatkan. Mereka yang cenderung menerima Sains merayakan kebebasan dan menikmati perkembangan yang terus mengejar batas-batas baru, kalau perlu menembus ruang angkasa. Kalaupun Tuhan itu ada di suatu planet, dan ada pesawat yang bisa menuju ke sana, pasti akan dilakoni. Dalam perspektif Sains, Agama adalah sebuah materi pembelajaran sejarah, dan kode-kode yang harus dienkripsi untuk diuji dan dibuktikan kesahihannya menghadapi perkembangan jaman dan masa depan. Bahkan kelompok sains ini tidak jarang membully golongan agama “too difficult to understand Science? Try Religion.” Karena dipandang sudah fix dan mandeg.

Sementara itu, peran agama sendiri lebih pada pengendalian masyarakat, kepatuhan, keteraturan, ketertiban, dan kekuasaan. Bagi negara yang majemuk dan punya kesenjangan di sektor ekonomi, kelompok agama menjadi solid, dan menjadi mayoritas, bahkan ikut mengatur jalannya sebuah negara. Sebuah kekuatan nyata yang bisa memberi tekanan baik politik maupun jumlah massa yang nyata. Bahkan bisa bertransformasi sebagai ideologi negara dan perjuangan abadi. Karena tujuannya adalah kemuliaan Tuhan atau Surga. Tentu saja, akhirnya perspektif kejayaan agama kemudian dikaitkan dengan kebersamaan berdasarkan sekat religius; kesamaan keyakinan. Keberhasilan yang diklaim pun berdasarkan ukuran jumlah, kemenangan konflik, prestasi personal pun dikaitkan sebagai kemenangan religius. Jelas itu membuat kedodoran berhadapan dengan pola pikir Sains. Walau paradoksnya beberapa negara yang jelas bercorak agama justru punya persenjataan paling canggih dan paling mematikan untuk pertahanan negara atau untuk memprovokasi negara lain.

Keduanya nyata eksis dengan pencapaiannya masing-masing yang boleh di klaim sebagai kemenangan kaumnya. Ada banyak negara bisa jadi contoh untuk hal ini. Keduanya terus berevolusi, walau katakanlah golongan Agama ada yang tidak menerima Teori Evolusi. Keduanya tidak akan bisa sejalan tanpa hadirnya faktor Kemanusiaan. Ilmu Pengetahuan dan Modernitas harus berjalan dengan semangat Kemanusiaan, demikian juga Agama harus mau berevolusi untuk menjadi kompas kemanusiaan. Tanggap dengan perubahan jaman, dan memberi ruang berpikir pada umatnya.

Lalu di mana saat ini pola pikir kita? Apakah termasuk orang yang membebasakan pikiran kita? Sebebas mungkin, bahkan berani mempertanyakan Tuhan dan Eksistensinya, mencari korelasinya lewat hukum alam dan terus berevolusi lewat ilmu pengetahuan. Atau kita termasuk yang mempertahankan batasan-batasan itu, bahwa pola pikir manusia haruslah dibatasi, harus dikendalikan, semua harus berada dalam koridor agama. Atau kita termasuk yang mempelajari keduanya dan mengapresiasi evolusi dan korelasi keduanya unt’uk menembus garis merah tipis yang memisahkan. Karena pendapat Einstein pun bisa diralat sedikit.

*“Ilmu Pengetahuan tanpa Kemanusiaan itu Pincang. Agama tanpa Kemanusiaan itu Buta.”*

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan agama, tapi mengajak untuk kritis, bahwa hadirnya Kemanusiaan mendampingi keduanya menjadi bahasa penghubung yang bisa menjadi jembatan yang paling logis sekaligus religius. Karena negara kita ini, Indonesia. Sampai saat ini sedang berada di garis merah itu, yang mana Kemanusiaan harus hadir mendampingi pola pikir masyarakat luas. Sementara pemahaman akan Kemanusiaan itu pun akan terus berevolusi dan berkembang, dan niscaya akan lebih bisa diterima sebagai tolok ukur pencapaian dan batasan keduanya. Karena hanya yang mau belajar akan menemukan kedamaian.

Rahayu.
Anandam. 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *