DINOSAURUS DAN KLON

Dinosaurus. Mungkin udah lama ya kita gk bicara tentang hal itu, dinosaurus sendiri udah punah sejak 66 juta tahun yang lalu. Tapi pada tahun 1993 ada terobosan baru untuk membuat film dengan tema dinosaurus yang digarap sama sutradara Steven Spielberg, Jurassic Park. Film ini heboh di seluruh dunia, dan sequelnya pun laris , The Lost World : Jurassic Park(1997), dan Jurassic Park 3 (2001). Film-film ini tuh nyeritain tentang bagaimana jika manusia bisa menghidupkan dinosaurus kembali dari dna nyamuk purba yang ditemukan dalam keadaan mati tapi masih segar. Dari dna tersebut dan dicampur dengan dna reptil lainnya maka  bangkitlah kembali dinosaurus, dari yang kita tahu sejak dari buku bacaan SD kita. Brachiosaurus, Stegosaurus, Pachicepalosaurus, Triceratops, sampai Tyranosaurus Rex. Yang memenuhi imajinasi kita bahwa Dinosaurus itu memang terbukti ada, dan dihidupkan terus dalam imajinasi kita.

Gw sendiri belum sempat melihat utuh semua film Jurassic park dari 1 sampai 3 karena banyak faktor salah satunya gk sempat dan males.  Kurang lebih menyeritakan dari dinosaurus yang berhasil dibangkitakan dan akhirnya dibuatkan tempat yang akhirnya menjadi kebun binatang macam Taman Safari, hingga akhirnya semua lepas kendali dan dinosaurus terpaksa dipunahkan lagi. Lalu gk selesai sampai situ aja nih, tahun 2015 kemaren, ada lagi film lanjutan Jurrasic Park, yaitu Jurrasic World(2015) menceritakan tentang membuka kembali taman dinosaurus yang sempat gagal tema film terdahulu.

Dengan kreatifitas baru,kali ini menambahkan beberapa spesies baru diantaranya ada Mosasaurus, Hiu Paus purba, juga ada spesies dino baru yang diciptakan dengan mutasi genetik yang dinamakan Indominus Rex yang merupakan campuran dari beberapa campuran dna dinosaurus dan hewan hewan lainnya. Karena kecerdasannya akhirnya Indominus Rex keluar dari kandang dan menyebabkan kekacauan (lagi) pada kebun binatang ini, hampir sama sih konsepnya. Lalu tahun ini juga ada lanjutan film Jurassic World : The Fallen Kingdom, nyeritain apa? Nonton dulu deh soalnya disini gk mau spoiler.

Oke, masuk ke pembahasan, sebenarnya yang mau diangkat dari film ini menurut gw itu adalah bagaimana berhasilnya teknologi kloning yang digunakan pada dinosaurus sehingga bisa membangkitkan lagi dinosaurus dari kepunahan. Sampai akhirnya keluar kendali sehingga akhirnya keluar kendali dan gagal. Di dunia ini juga sebenarnya sudah ada beberapa hewan yang di klon diantaranya ada Dolly The Sheep, dan Cc The Cat yang dikloning. Hasil kloningan itu sukse, hanya jangka hidup hewan yang dikloning itu lebih pendek dari hewan aslinya.

Disini gw mau bahas gimana ya kalau klon digunain buat manusia? Apa akan berhasil? Karena dari 2 hewan yang di klon itu berhasil dan sampai sekarang belum ada berita tentang klon lagi. Sebenarna apa sih yang bisa terjadi pada manusia yang di klon? Apakah hanya jangka hidup yang berkurang ataukah ada efek lain yang bisa diterima manusia? Bagaimana dari perspektif Agama, Pengetahuan, tentu penciptaan klon dianggap sangat kontroversial. Tapi dari sisi kedokteran, mungkin ini adalah yang terobosan  di mana manusia bisa mendapatkan donor atau badan yang lain bila dia terkena sakit? Meskipun dari sisi moral bisa saja ini jadi perdebatan yang tidak selesai.

Selanjutnya, sekaligus pertanyaan terakhir dari gw, apa yang bakal terjadi di dunia ini kalo Klon benar-benar sudah terjadi? Mungkin tidak hanya dinosaurus benar benar di klon dan menapakkan kaki di bumi ini? Tapi juga manusia-manusia yang diklon, dan hidup bersama kita? Pembahasan ini seperti tidak lagi ramai, padahal ilmu dan teknologi berkembang terus.. mungkin di belahan dunia entah di mana. Semua itu sudah terjadi dan kita, siap atau tidak menerimanya, tentu tidak semudah seperti kita menerima film-film Hollywood yang menghibur ini. Jericho.

DIMENSI CINTA YANG BERBEDA

Kegagalpahaman tentang Keluasan Cinta membuat kita mudah sekali menghakimi dan susah memahami…
Seolah itu hanya urusan ketertarikan seksual, atau malah aktifitas seksual saja. Apalagi kalo sudah ditambah kutipan Ayat2 Suci… Seakan Tuhan bisa disenangkan dengan kita membenci perilaku seks seseorang…Membenci pun menjadi kesalehan religius.

Kegagalan ini bukan karena sebagian dari kita Melupakan semua Ayat Cinta.. tapi jauh sebelum itu… Bahwa cinta itu luas batasannya, yaitu zona di atas nafsu, dan menuju Kasih yang universal.
Begitu kurangnya Simbol tentang cinta yg berhasil diterjemahkan. Gambaran pun menjadi tabu… Akhirnya melihat kedekatan dua makhluk Tuhan ada dalam penilaian imajinatif..

Masyarakat dibiarkan sakit, dan mudah menghakimi.. Valentine’s Day Haram! Kalo laki-perempuan.. pasti Free Sex, Laki akrab sama Laki.. pasti Homo… Cewek sama Cewek pasti Lesbi.. belum lagi yg di stigma Banci dll.. yang dianggap sakit dan menyimpang, singkat kata TIDAK NORMAL. “Kamu tidak benci mereka berarti kamu sama kaya mereka..” Logika Fallacy yg biasa digunakan kaum awam relijiyus.

Semoga kita semua mau belajar bahwa ada dimensi Cinta yang mungkin saja belum kita pahami.. seperti rasa sayang, peduli, persahabatan, antara sesama makhluk, entah itu sesama manusia, atau dengan sesama makhluk, manusia dengan lingkungan…

“Love has No Gender”… itu adalah kenyataan yang menyertai kehidupan dan sejarah hidup manusia. Tidak perlu menerima, mencinta, cukuplah kita memahami dan tidak perlu membenci… seolah dengan mengaku Normal, kita punya hak untuk membenci. Mau sampai kapan?

Semoga saja kita mau membaca lebih banyak buku, belajar lebih banyak ilmu tentang Cinta, dan punya kesempatan mempraktekkannya.. atas dasar Kemanusiaan. Karena begitulah makna dimensi cinta yg terus berkembang dan meluas.. semoga wawasan kita pun begitu. Tidak ikutan gagal…

#CatatanTentangCinta

SAINS, AGAMA & KEMANUSIAAN

Masyarakat di dunia ini bisa dibagi sesuai pola pikirnya, secara Sains, secara Agama, dan Secara keduanya.. Berawal dari sebentuk kekhawatiran bila Ilmu Pengetahuan berkembang terus akan semakin meninggalkan Agama. Maka sebagian dari kita mematok program bijak dalam dirinya dengan mengutip Rshi modern Albert Einstein ”Science without Religion is Lame. Religion without Science is Blind.” Ini diamini dua tiga pihak, baik yang merasa berpihak pada Agama maupun yang berpihak pada Sains, maupun yang berpihak pada keduanya. Bagaimana dengan kondisi kekinian menghadapi perkembangan jaman?

Perkembangan begitu cepatnya, manusia lah yang tergagap-gagap mengejarnya, dan rata-rata berkembang di negara di mana Agama tidak lagi memegang kendali penting. Perkembangan yang menyeluruh di bidang apapun dari teknologi, informatika, sampai kedokteran, botani, ekonomi membuat agama begitu terdengar so yesterday. Ibarat handphone yang OS nya tertinggal begitu jauh, sementara program dan sistem baru terus muncul dan update terhadap perubahan jaman.

Kebebasan berpikir, keluar dari belenggu conditioning yang membatasi membuat manusia berani menembus batas-batas ilusif yang diciptakan atas nama apapun termasuk agama maupun moral sekalipun dan terus diperdebatkan. Mereka yang cenderung menerima Sains merayakan kebebasan dan menikmati perkembangan yang terus mengejar batas-batas baru, kalau perlu menembus ruang angkasa. Kalaupun Tuhan itu ada di suatu planet, dan ada pesawat yang bisa menuju ke sana, pasti akan dilakoni. Dalam perspektif Sains, Agama adalah sebuah materi pembelajaran sejarah, dan kode-kode yang harus dienkripsi untuk diuji dan dibuktikan kesahihannya menghadapi perkembangan jaman dan masa depan. Bahkan kelompok sains ini tidak jarang membully golongan agama “too difficult to understand Science? Try Religion.” Karena dipandang sudah fix dan mandeg.

Sementara itu, peran agama sendiri lebih pada pengendalian masyarakat, kepatuhan, keteraturan, ketertiban, dan kekuasaan. Bagi negara yang majemuk dan punya kesenjangan di sektor ekonomi, kelompok agama menjadi solid, dan menjadi mayoritas, bahkan ikut mengatur jalannya sebuah negara. Sebuah kekuatan nyata yang bisa memberi tekanan baik politik maupun jumlah massa yang nyata. Bahkan bisa bertransformasi sebagai ideologi negara dan perjuangan abadi. Karena tujuannya adalah kemuliaan Tuhan atau Surga. Tentu saja, akhirnya perspektif kejayaan agama kemudian dikaitkan dengan kebersamaan berdasarkan sekat religius; kesamaan keyakinan. Keberhasilan yang diklaim pun berdasarkan ukuran jumlah, kemenangan konflik, prestasi personal pun dikaitkan sebagai kemenangan religius. Jelas itu membuat kedodoran berhadapan dengan pola pikir Sains. Walau paradoksnya beberapa negara yang jelas bercorak agama justru punya persenjataan paling canggih dan paling mematikan untuk pertahanan negara atau untuk memprovokasi negara lain.

Keduanya nyata eksis dengan pencapaiannya masing-masing yang boleh di klaim sebagai kemenangan kaumnya. Ada banyak negara bisa jadi contoh untuk hal ini. Keduanya terus berevolusi, walau katakanlah golongan Agama ada yang tidak menerima Teori Evolusi. Keduanya tidak akan bisa sejalan tanpa hadirnya faktor Kemanusiaan. Ilmu Pengetahuan dan Modernitas harus berjalan dengan semangat Kemanusiaan, demikian juga Agama harus mau berevolusi untuk menjadi kompas kemanusiaan. Tanggap dengan perubahan jaman, dan memberi ruang berpikir pada umatnya.

Lalu di mana saat ini pola pikir kita? Apakah termasuk orang yang membebasakan pikiran kita? Sebebas mungkin, bahkan berani mempertanyakan Tuhan dan Eksistensinya, mencari korelasinya lewat hukum alam dan terus berevolusi lewat ilmu pengetahuan. Atau kita termasuk yang mempertahankan batasan-batasan itu, bahwa pola pikir manusia haruslah dibatasi, harus dikendalikan, semua harus berada dalam koridor agama. Atau kita termasuk yang mempelajari keduanya dan mengapresiasi evolusi dan korelasi keduanya unt’uk menembus garis merah tipis yang memisahkan. Karena pendapat Einstein pun bisa diralat sedikit.

*“Ilmu Pengetahuan tanpa Kemanusiaan itu Pincang. Agama tanpa Kemanusiaan itu Buta.”*

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan agama, tapi mengajak untuk kritis, bahwa hadirnya Kemanusiaan mendampingi keduanya menjadi bahasa penghubung yang bisa menjadi jembatan yang paling logis sekaligus religius. Karena negara kita ini, Indonesia. Sampai saat ini sedang berada di garis merah itu, yang mana Kemanusiaan harus hadir mendampingi pola pikir masyarakat luas. Sementara pemahaman akan Kemanusiaan itu pun akan terus berevolusi dan berkembang, dan niscaya akan lebih bisa diterima sebagai tolok ukur pencapaian dan batasan keduanya. Karena hanya yang mau belajar akan menemukan kedamaian.

Rahayu.
Anandam. 🙏

MELAWAN VANDALISME RELIJIUS

Pagi ini di WAG ada kawan memposting sebuah video tentang seorang ekstremis yang merusak patung di tengah kota. Telusur punya telusur sambil diskusi ternyata kejadiannya Desember lalu di sebuah kota di Algeria (Aljazair) yang mana kemudian video ini viral dan sampai juga ke sini. Seorang memakai jubah putih berjenggot tebal, berusaha menghancurkan sebuah patung perempuan telanjang yang sudah 125 tahun di situ. Salah satu Ikon kota. Ratusan orang berusaha menghentikan, melempar batu, sampai akhirnya dihentikan secara paksa. Bahkan kejadian ini jadi perhatian serius pemerintah Aljazair. Juga sebagai peringatan kepada negara-negara lain bahwa potensi vandalisme seperti ini selalu menghantui.

Saya pun flashback ke 11 Maret 2001 ketika CNN memberitakan bahwa dua patung Buddha di Bamiyan Afghanistan setinggi 53m yang sudah ada di sana sejak abad 4SM, telah luluh lantak, dihancurkan oleh kelompok ekstremis Taliban. Itu adalah salah satu peristiwa penghancuran budaya terbesar di era modern ini. Bagaimana jejak kebudayaan manusia, pencapaian nenek moyangnya sendiri dihancurkan atas nama kepercayaan masa kini.. dan dengan bangga mengumumkannya pada dunia, bahwa mereka adalah penghancur berhala. Ironis, selama dua millenium, patung itu ada di sana, dan baik-baik saja.. dijaga, dikagumi, dipelajari, warisan pencapaian kultural kemanusiaan yang agung.. begitu masuk era Taliban, dihancurkan dengan RPG dan Dinamit.. dunia pun hanya bisa menganga dalam kemarahan dan keputus-asaan.

Kegilaan hanya bisa dikalahkan oleh kegilaan yang lain, pasca tragedi WTC 911. Koboi Amerika pun datang menggempur Afghanistan dengan alasan mencari dan membasmi teroris.. memukul kelompok Taliban dengan korban jiwa yang tak terhitung, dan meninggalkan kekacauan yang tak kunjung reda sampai sekarang. Taliban kembali jadi gerilyawan yang setiap saat merongrong pemerintahan dengan aksi kekerasan dan terorisme. Lalu kembali ke Bamiyan.. mau diapakan? Dibangun kembali? Silahkan, tapi tidak di Bamiyan. Mengingat bukan hanya Taliban sekarang.. ada ISIS, Boko Haram, dan sejenisnya.. belum simpatisannya di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Penghapusan Sejarah, lewat perusakan jejak budaya seakan sudah dianggap wajar di sini dan terus masih terjadi. Belum ada perlindungan yang benar-benar serius untuk benda bersejarah yang memang bertebaran dari Sabang sampai Merauke ini. Berapa banyak patung, arca yang ditemukan lagi dalam keadaan utuh? Mungkin banyak.. tapi lebih banyak yang dirusak.. wajahnya dibelah, dimutilasi, dipenggal, atas nama apapun itu. Candi-candi terbengkalai dirusak, dicuri batu-batunya.. Kejadiannya kapan, tak ada yang benar-benar mau mengungkap kejahatan atas peradaban yang sudah berlangsung bergenerasi ini. Penurunan patung, pembakaran, vandalisme masih marak dilakukan sebagai aksi menang-menangan para pengecut yang dibungkus dengan label relijius.

Memang miris menyadari bahwa kita tidak bisa mempertahankan itu semua. Apalagi sampai bisa mempelajarinya dari puing-puing tersebut. Tapi untungnya DNA kita sebagai bangsa Nusantara masih punya memori yang kuat untuk diakses kembali. Gerakan dan Upaya menelusuri kembali jati diri, sebagai bangsa dan budaya tak bisa lagi dihentikan, apalagi pasca reformasi. Perubahan jaman yang sarat dengan bertebarannya kebohongan dan pembodohan ini, tidak mampu menghentikan pembelajaran yang terus terjadi dengan akselerasi sama.

Memang perlu kita merefleksi kembali peristiwa Bamiyan..Tapi jangan lupa bahwa kita sendiri sudah keteteran menjaga jejak-jejak budaya ini. Tanpa kesadaran berbudaya, apresiasi yang tinggi, bukan sekedar toleransi, dan semangat belajar yang tinggi, mustahil kita bisa mempertahankan budaya Indonesia tiga puluh tahun lagi.

Kejadian beberapa tahun lalu, di situs budaya goa Semar Dieng yang sering dikunjungi pelaku budaya untuk bersemedi dan bermeditasi dirusak. Pintunya dibuka paksa dan diacak-acak isinya dan patung Semar yang ada di rusak. Mau menyalahkan siapa? Tak ada CCTV di sana.. daripada ribet dipikirkan, kasus ini tak bakal selesai tanpa keterlibatan aparat negara. Tapi sudahlah.. apalah arti sebuah patung. Seorang sahabat datang dari Jakarta membeli sebuah patung Semar di Muntilan dan memboyongnya ke Dieng untuk di taruh di situ sampai selesai. Well.. ego, fanatisme dan kebodohan manusia bisa saja menghancurkan apa saja, tapi takkan bisa menghentikan penciptaan dari Bangsa yang terus berkarya, mencipta, dan menjaga Budaya.

Rahayu.. Anandam .

PROBLEM SETELAH KEMATIAN KITA?

Pagi ini membaca beberapa artikel tentang harga tanah makam di beberapa daerah yang cenderung naik dan terbatas. Saya jadi ingat diskusi bersama Jericho tiga tahun lalu, ketika bangsa ini berduka karena pesawat  AirAsia QZ8501 dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura terjatuh dan 153 penumpangnya dinyatakan meninggal dunia. Pencarian besar-besaran dilakukan, dan setelah beberapa hari, sebuah stasiun televisi saking semangatnya sampai melanggar etika, menyiarkan rekaman yang mengejutkan sekaligus membuat shock orang yang berharap pesawat itu masih bisa ditemukan dan korban ada yang selamat. Ternyata beberapa jenazah mengambang di lautan dan kemudian evakuasi dilakukan walau medan yang sulit karena di dasar lautan. Benar saja tidak semua jenazah akhirnya bisa dievakuasi dan dikembalikan pada keluarga. Bahkan setelah hari-hari berikutnya, bahkan akhirnya harus diikhlaskan.

“ Ric, (panggilan Jericho) kira-kira kalau saya ada di antara korban pesawat itu dan masih tertinggal di dalam pesawat, susah di evakuasi. Kamu sebagai pihak keluarga tetap menuntut evakuasi, atau bagaimana?”

Saya ingat Eric berpikir sebentar, dan akhirnya bilang “ Walau berat, tapi sepertinya memang harus direlakan, untuk tetap di sana saja, toh kondisi jenazah tidak akan lagi utuh. Lagipula akhirnya kalau harus dikremasi pun akhirnya dilarung kembali ke laut kan? Seperti kejadian-kejadian kapal tenggelam, dan itu tidak mengurangi rasa hormat kita kan ya? Mau gimana lagi?”

Saya pikir diskusi itu menyentuh permasalahan yang memang akan terjadi di masa depan. Ada dua ratus empat puluh juta orang Indonesia, termasuk saya dan anda kita semua pasti akan mati. Mungkin masalah tanah kubur ini akan menjadi semakin rumit, karena kita tinggal di tanah kepulauan dan bila saja satu orang membutuhkan minimal 1x2m, maka akan dibutuhkan lima ratus juta meter persegi semua untuk ritual penguburan dan itu akan bertambah terus.

Memang ritual penguburan ini tidak lepas dari budaya, kepercayaan, maupun agama setempat. Pernahkah kita berpikir, bahwa suatu saat tanah ini akan habis? Sekarang saja sudah banyak tanah kubur yang disewakan? Saya tidak membayangkan keluarga yang tidak lagi sanggup merawat perkuburan itu, atau anggota keluarganya jauh, atau memang sudah tidak ada lagi yang sanggup. Apalagi di keluarga etnis Tionghoa yang punya kuburan megah seperti itu dan ada puluhan. Butuh pendanaan yang kuat untuk melanjutkan tradisi itu kan?

Tak terbayangkan bila suatu hari nanti orang dikuburkan dalam posisi berdiri, atau dalam sebuah gedung bertumpuk, karena tanah yang semakin terbatas dan semakin tak terjangkau. Atau keluarga akhirnya harus merelakan tanah pekarangannya sendiri untuk penguburan. Butuh dua belas tahunan sampai tubuh menjadi tulang tengkorak, dan tengkorak terurai tanah, bisa ratusan tahun. Dengan kata lain memang ini akan jadi masalah bila dalam waktu ratusan tahun tidak ada yang merawat perkuburan ini. Dari perspektif yang berbeda hal ini, sepertinya tradisi dari kepercayaan lain terasa lebih siap menghadapi prosesi ritual kematian ini. Sebagian umat Hindu dan Buddha, Shinto Jepang, di Vietnam dan lain-lain melakukan kremasi sebagai jalan untuk membebaskan jiwa dari badan yang sudah dinyatakan mati, yang juga diterima oleh sebagian umat Nasrani sebagai solusi yang tidak kalah terhormat bagi mereka yang meninggal.

Hanya saja katakan tiap hari ada enam puluh juta lebih orang yang meninggal di dunia, seperempat atau seperlimanya saja di kremasi. Masih dibutuhkan seratus juta meter persegi setiap hari untuk menguburkan jenazah. So, kembali ke negeri kita tercinta di mana kita suatu hari nanti juga akan menempati satu kali dua meter itu? Atau ada solusi yang lebih bisa dibicarakan dengan keluarga mulai hari ini. Menurut sebuah sumber yang saya pernah baca, penguburan didasarkan pada kepercayaan kuno yang percaya, kalau apapun yang ditanam di tanah akan tumbuh kembali. Kita sebagai bangsa maritim, yang tinggal di kepulauan, seharusnya juga berpikir bahwa sea burial, ocean funeral sebagai sebuah solusi.

Bila kita percaya tanah akan menguraikan badan dan melepas jiwa seseorang, tentunya laut juga. Seperti pelepasan jenazah di tengah laut bagi angkatan laut atau seorang anak buah kapal adalah sebuah kehormatan. Atau kremasi sebagai pilihan yang cukup praktis bila tidak terhalang adat istiadat dan kepercayaan keluarga. Tapi kita punya kendali dan kehendak penuh menentukan kelaka badan ini mau diapakan bukan? Semua kembali pada pilihan kita sendiri. Bila saya ditanya, saya akan memilih kremasi, karena itu tidak akan membebani keluarga yang masih hidup, dan tidak perlu merawat kubur saya di kemudian hari, sekali lagi mari kita pikirkan bersama bahwa tanah kepulauan ini suatu hari akan habis hanya untuk menumpuk kerangka dari ratusan juta jenazah, dan cerita di atasnya sungguh akan kompleks.

Demikian Kata dan Rasa yang bisa saya tuliskan pagi ini..

Rahayu. Anandam.

SOPHIA DAN MASA DEPAN

Jaman Robot sudah Terjadi…

Robot itu keren.  Hampir setiap anak di negeri ini yang sudah lahir di iklim kemerdekaan dan modernisasi selalu mengalami masa kecil yang menarik memori tentang robot. Entah itu melihat di siaran tv, atau film, bisa apa saja. Tapi mayoritas remaja tanggung saat ini pasti punya kecintaan dengan Transformers, robot-robot imajinasi dari pabrik mainan Hasbro yang sekarang jadi jualan Hollywood itu telah menjadi bagian dari memori yang keren di benak mereka. Robot-robot baik dan jahat bertarung, demi keselamatan manusia. Ini membekas, sampai banyak anak yang begitu tertarik pada materi robotik, tentu ini hal yang menarik dan sangat positif walau konsep filmnya semakin aneh saja tapi siapa peduli, para remaja tetap menonton koq.

Robot bukanlah sesuatu yang baru, tema ini sudah diangkat di film-film sejak 1927, Maria. Sampai sekarang yang paling mutakhir tentunya Transformers, Westworld, Pacific Rim, dan banyak lagi. Topik yang diangkat dan kontroversial adalah bagaimana bila suatu saat nanti robot ini bisa berpikir sendiri dengan Artificial Intelligence, dan ternyata masa itu sudah datang. Tinggal menunggu waktu kapan semua itu benar-benar terjadi di mana manusia hidup bersama dengan mesin buatannya. Ridley Scott, sejak mengangkat kembali franchise Alien mempertanyakan penciptaan manusia lewat filmnya Prometheus 2012 lalu, dan disambung sequelnya Alien Covenant 2017 lalu. Ada poin yang menarik di situ bahwa manusia mempertanyakan siapa yang menciptakannya? Menempuh antar galaksi demi mendapatkan jawabnya, sementara manusia sendiri telah menciptakan humanoid yang bisa berkembang dan mengupgrade dirinya. Semakin cerdas, semakin hebat, dan mungkin abadi. Sedangkan manusia yang menciptakannya tidak.. sebuah tema kontroversial yang cukup mengerikan. Karena ternyata ciptaan manusia lah yang suatu saat nanti mengambil alih keterbatasan manusia.

Baik, kita tidak bahas robot dan film koq, video di atas adalah tentang Sophia, sebuah robot yang dikenalkan di 2015 lalu dan menimbulkan kehebohan di mana-mana ketika robot dibuat sebagian begitu mirip dengan manusia. Reaksi bisa beragam, takjub, sampai ngeri. Ternyata sudah sampai di sini, di video di atas Sophia sudah berjalan dan menari, tinggal ditambah kulit sintetis untuk menutup bagian-bagian mesinnya, maka apa bedanya dengan manusia? Mungkin Sophia Mark V nanti sudah benar-benar menggantikan beberapa tugas manusia?

Harapan boleh tinggi, manusia bisa hidup bersama dengan robot, bahkan bisa berbuat apapun seperti di serial HBO, Westworld itu. Bahkan dibuat wahana, bahwa robot tidak punya hak seperti manusia, sehingga manusia punya kendali sepenuh itu, termasuk boleh merawat mengembangkan mengupdate, sampai merusak. Hanya saja, mungkin properti siapa robot-robot ini nanti itu akan benar-benar merubah wajah dunia. Ketika rasa penasaran manusia juga semakin tinggi, bahkan ada yang berharap apa yang terjadi di Westworld bisa terjadi juga. Robot bisa diajak kencan, seks, bahkan disiksa. Sampai suatu saat kecerdasan buatan itu cukup bagi robot ini untuk melampaui sebagian kecerdasan manusia.

Belahan lain dunia, dunia robotik tidak hanya mulai menggantikan industri, tapi juga menjadi mesin perang yang sangat efektif. Lihat saja, negara-negara dengan drone canggih mampu membom negara yang diinvasinya tanpa ampun. Atas nama menjaga ketertiban dan keamanan dunia, manusia telah menggunakan teknologi yang super canggih ini untuk menghancurkan sesamanya. Dan dalam perang semua bisa dimaklumi bagi pihak yang berkepentingan. Bisa kah kita menghentikan kemajuan ini? Tentu tidak, manusia dengan segala keterbatasannya akan menyaksikan perkembangan dan kemajuan teknologi ini yang semoga saja semakin manusiawi. Walau pada faktanya.. meragukan.

Kembali pada Sophia, akan tiba masanya nanti di mana robot-robot ini akan punya pikiran sendiri, undang-undang mana bisa membatasi. Negara manapun takkan mau kalah mengembangkan kecerdasan buatan seperti yang kelak ditanamkan pada Sophia. Mungkin Buruh Pabrik, Asisten Rumah Tangga, sampai Asisten Pribadi pada awalnya akan terganti, kemudian.. Teman, pasangan hidup? Ah.. kenapa tidak. Bukankah pikiran gila saat ini sudah tergambar semua di Hollywood, saya hanya mengulang saja lewat tulisan ini. Selebihnya ya tinggal kita menyaksikan, dan beradaptasi suatu hari.. berjumpa seseorang, yang memperkenalkan diri, bahwa dia hidup bersama seorang, atau sebuah robot? Dan dilindungi Undang-Undang?

Saya sih kembali lagi pada apa yang dikatakan Jack Ma, bahwa teknologi secanggih apapun, kecerdasan buatan seperti apapun, mereka tidak bisa mencinta. Walau manusia terus saja berusaha melogikakan proses cinta, tapi tetap saja itu adalah kebisaan original dari manusia. Mungkin inilah pembeda, yang bisa dikembangkan yaitu kemanusiaan. Semoga saja, suatu saat itu tidak terganti.

Tunggul.

TERORIST = ATHEIST?

Teringat peristiwa sebulan lalu, serangan terorisme di Surabaya dan beberapa tempat di Indonesia. Serangan Teroris di Jawa timur, berupa bom bunuh diri menyasar target tempat ibadah di Surabaya. GILA. Ngeri Man.., Serangan bom, di suatu area dalam waktu sesingkat itu. Parahnya adalah bom bunuh diri bom itu meledak di tempat ibadah. Iya, gereja. Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Jemaat Sawahan. Tiga gereja dalam waktu bersamaan di bom oleh keluarga ‘baik-baik’ terdiri dari  suami, istri dan empat anak yang disinyalir pernah pulang dari medan perang di Suriah menurut Kapolri. Parah yah?

Kali ini gw mau bahas tentang kata orang setelah serangan teroris yang menewaskan dua puluh delapan orang termasuk para pelaku ini, yang katanya ‘Terorisme tidak memiliki Agama’. Well, kalo tidak memiliki agama menurut gw ada yang salah di sini, mungkin persepsi masyarakat memang mau diarahkan pada “Terorisme tidak berdasarkan Agama”, karena mana ada kan ya agama yang melukai sesama umat maupun umat beragama lainnya? Untuk menjaga iklim kondusif di masyarakat, supaya tidak saling tuding. Masalahnya adalah meskipun terorisme kemudian dicap tidak berdasarkan agama, mereka yang melakukannya pasti memeluk suatu agama, dan ketika agamanya ditunjuk mereka akan keberatan kalo agamanya disebut sebagai  motif terorisme. Emang sih enggak, Cuma pelakunya memeluk agama. Targetnya pun tempat Ibadah beragama. Coba deh kita pikir bareng bareng, mereka melakukan hal itu untuk apa? Motifnya cuma supaya bisa masuk surga? dan ketemu bidadari? As simple as that? Tapi a carannya sangat tidak tepat very-very wrong.

Apa sih Terorisme itu? Menurut wiki, Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Nah, yok kita gali lagi beberapa abad kebelakang, dimana para terorisnya justru petinggi suatu agama dan begitu berkuasa menteror rakyatnya sendiri, di abad pertengahan, di mana gereja begitu berkuasa di Eropa. Perempuan tidak boleh berpendidikan, perempuan pintar malah dibakar, Perempuan belajar tentang perbintangan dianggap penyihir dan para ilmuwan dikejar-kejar dan dianggap sesat, masih banyak lagi. Kata Teroris sendiri berasal dari  bahasa Perancis La Terreur(cari sendiri artinya yak), dan kata terorisme sendiri baru terkenal sejak abad 19 setelah Revolusi Perancis. Dari beberapa hal tersebut gw bisa menyimpulkan bahwa teroris menerapkan pola perlawanan ideologis itu dipakai waktu sekarang untuk mencapai tujuan tertentu, gila yah? Menyelesaikan apapun  yang menentang keyakinan ideologis mereka dengan membunuh dan menteror.

Sulit sekali gw pahami, walau hanya menyampaikan isi otak gw, bukan untuk menyindir siapapun, bagimana bisa tindakan sebiadab itu masih terjadi saat ini. Makanya kita belajar itu.. it’s a must. Mumpung kita diberi kebebasan dan kemerdekaan untuk bisa belajar apa saja, berdiskusi apa saja dan berpendapat selama bertanggungjawab. Ini jangan sampe kita sia-sia kan deh.. mumpung gak ada yang bakar-bakar kita karena berpikir begini, walo begitu ancaman Bom masih saja mengintai siapa saja, karena targetnya acak kan?

Kembali lagi ke slogan ‘terorisme tidak mengenal agama atau tidak memiliki agama’. Kalimat itu dikatakan, ditulis, diketik dimana mana di Indonesia ketika serangan itu terjadi, menurut gw malah justru menunjuk kelompok tertentu, yaitu atheist. I’ve done some research, atheisme dilarang di indonesia, tidak boleh hidup di indonesia. Ketika para atheis sudah tidak boleh hidup di indonesia, mereka dituduh masalah terorisme, yang bener aja. Orang beragama pasti memiliki keyekinannya, tapi orang yang tidak beregama juga memiliki keyakinan atas mengapa mereka gk memeluk suatu agama. Jadi, janganlah mengatakan slogan tersebut, gantilah dengan yang lebih baik, Karena bagaimanapun juga tindakan biadab yang tidak manusiawi ini harus terus dilawan dengan cara yang lembut sampai yang keras.

Negara gk boleh kalah yow, jangan sampe nyerah, kasihan kita-kita dong..  karena menurut data Polisi, jumlahnya masih ada ribuan orang yang berpotensi menyerang negara kita sendiri, dan itu lebih tidak bisa dipahami lagi apabila motivasinya politik, atau malah agama lagi. Semoga Densus88, BNPT, BIN, Pemerintah dan Masyarakat semakin sadar hal ini, jangan sampai energi generasi muda yang begitu banyak ini akhirnya sia-sia karena dihabiskan untuk mengikuti radikalisme yang berujung pada potensi menteror bangsa kita sendiri. Hentikan potensi Terorisme dari diri kita, mari jadilah Jiwa Indonesia yang cinta tanah air dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Jericho

CURHAT RAMBUT PENDEK, RAMBUT RAPI?

Hay folks, dalam katarasa kali ini kita bakal diskusi tentang peraturan sekolah yang menurut gw agak ngeselin. Mana yang benar? Rambut harus rapi atau pendek? Inget ya, disini tidak menyindir siapapun dan tidak menyerang siapapun, jangan jadi reader yang baperan dan gampang ke triggered ya…

Dari semua peraturan sekolah yang tertulis dan yang engga, gw sih paling bingung sama yang ini. Why? Ya coba deh baca aja di papan peraturan sekolah kalian, pasti tulisannya kurang lebih ‘RAMBUT SISWA HARUS RAPI’, ya kan? Emang sih peraturannya kaya gitu, tapi penerapannya gk kaya gitu men. Dari pengalaman 1 taun gw di SMA yang salah 1 peraturannya ‘rambut harus rapi’ itu pasti rambut siswa pendek, mau yang anak paskib mau yang engga, maksud gw WHY gitu? Why must we have a short hair to be called neat or tidy gitu. Bahkan pernah sekali di kelas gw itu tiba tiba razia rambut, dan rambut itu panjang dikit klo ditarik kebawah gk ngelewati dahi itu dipotong.. Sadis yah (gatau klo sekolah kalian sih, klo iya bolehlah berpendapat di komen). But that’s not The  Problem folks, masalahnya adalah ketika mereka menuntut rambut kita untuk rapi bukannya ‘pendek’, mereka, para guru yang menuntut rambut rapi justru motong rambut temen temen gw jadi pendek dan sama sekali TIDAK rapi. Mereka yang menuntut tapi mereka tidak melaksanakannya, kalian HEBAT deh, atau gw yang salah tempat yah.

Ada yang bilang kalo peraturan itu buat dilanggar, eh ada juga yang bilang peraturan buat ditaati, mana yang bener? Gw juga kaga ngarti, yang pasti untuk peraturan satu ini adalah peraturan yang paling aneh di sekolah, bukan sekedar masalah panjang atau pendek, rapi atau kaga. Masalahnya adalah, emangnya dengan rambut murid itu pendek seperti yang diinginkan terus prestasinya bisa jadi bagus gitu? Kalo emang iya, udah dari jaman SD gw potong botak kaya Avatar Aang, gw gaperlu ribet mikirin perawataan rambut, beli shampo ini itu, beli pomade, beli hair vitamin, dll yakan? IYALAH BG.

Nyatanya juga ada aja orang yang udah potong rambut rapi, pendek tapi juga prestasi B aja, malah ada yang kurang. Tapi justru banyak juga orang yang rambut mereka rapi tapi tidak pendek, atau justru tidak rapi tapi justru nilai mereka bagus. So what gitu? Menurut gw dengan membatasi aturan rambut harus rapi(pendek) itu justru menekan kebebasan (enaaaakk). Sekolah sekolah yang tidak mengurusi tentang rambut muridnya justru adalah sekolah yang bagus menurut gw, contohnya? Kolose De Britto di jogja, sekolah itu gk hanya membebaskan murid dalam hal rambut tapi juga bebas dalam berseragam. Dan apa hasilnya? Justru prestasi murid disana lebih bagus daripada sekolah yang menekankan peraturan tentang rambut harus rapi. Jadi? Kesimpulannya? So,  bebaskan rambut kami karena ini hak kami dan juga ini tidak memengaruhi prestasi kami.

‘Tapi kan para guru ingin agar muridnya tertib dan patuh pada aturan’. Dipatuhi, memang sih lebih mudah ngatur sekian banyak murid yang nurut. Lagipula bisa dipahami, trend potong rambut yang keren dan sesuai barbershop modern tidak akan semudah itu dipahami pihak sekolah kan? Apalagi rambut diwarnai, rambut ditata se keren itu bisa menimbulkan kesenjangan apapun itu? Lebih keren tampak lebih kaya? Lah pengamen-pengamen di jalanan itu rambutnya diwarna semua, koq.. ah sudahlah.

Tertib itu gk hanya tertekan pada satu hal sih. Lu dateng sekolah tepat waktu, tertib. Lu mengumpulkan tugas tepat waktu, tertib,lu ikut upacara pake atribut lengkap, tertib,lu ke sekolah pake seragam sesuai aturan, tertib, kurang apa lagi gitu? Dengan segala ketertiban yang sudah dijalani apa kurang? Kami bersekolah itu untuk berkembang, bukan untuk dididik harus patuh. So, Pls Bapak Ibu Guru yang baik Bebaskanlah kami dalam beberapa aspek gitu, kalo boleh yang sektor ini deh..kami toh tetap always respect the Teacher. Sebuah perasaan yang tertahan selama setahun ngadepin Razia Rambut dadakan. Ato memang nasib gw harus nunggu lulus dulu..

Jericho

PULANG dan MAAF

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home

Maybe surrounded by
A million people
I Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

(Blake Shelton- Home)

Mulai beberapa hari ini hampir di setiap media kita bicara tentang pulang. Puluhan ribu kendaraan umum plus kendaraan pribadi mengangkat jutaan masyrakat negeri ini untuk pulang, dengan istilah mudik. Memang budaya urban, merantau di negeri yang sangat luas ini membuat siapapun bisa bekerja, punya kehidupan di tempat yang tersebar di Nusantara jauh di dari kampung halaman. Momentum libur Lebaran ini dipakai untuk melakukan acara ritual tahunan bagi sebagian orang untuk kembali pulang, menjumpai keluarga, kerabat, rumah, kampung halaman.

Memang kalau kita bicara hanya dari sisi logika, ngapain susah-susah berduyun berdesakan, bermacet ria di jalanan, membeli tiket yang tidak murah, berisiko tinggi menyetir dari kota besar menuju kampung halaman, padahal di jaman ini teknologi bisa saja menjangkau siapa saja hampir di seluruh pelosok negeri. Kita bisa berkomunikasi dengan mudahnya, tiket harian juga tidak semahal itu, bila memungkinkan pulang bisa kapan saja, lalu kenapa harus di momentum Lebaran ini?

Motivasi pulang, mudik, ini bisa berjuta cerita, seiring laju pergerakan kendaraan yang meninggalkan kota untuk kembali ke desa asal. Kangen, rindu, memang sudah lama tidak pulang, dalam perantauan? Menunjukkan pada keluarga bahwa sekarang berada dalam kondisi berhasil dalam perantauan, memberi cerita sukses pada keluarga, kerabat, atau memang berbagi berkah karena tidak hanya berhasil tapi juga layak dibanggakan keluarga. Walau selain itu cerita-cerita mereka yang kalah juga tidak jarang. Mereka pulang karena memang harus pulang.. karena tak mampu bersaing menghadapi kerasnya kehidupan urban, dan pulang adalah yang paling logis. Terlepas dari semua cerita yang bisa sangat beragam itu, tujuannya adalah sama, kembali pulang…

Harus diakui ini adalah momentum yang spesial, bagi sebagian besar yang berpuasa menjelang Hari Raya ini, dan juga bagi mereka untuk berkumpul bersama keluarga. Berkumpulnya kembali dalam sebuah kehangatan keluarga, kawan, sahabat, masa kecil, bukankah itu memori yang indah, yang menggerakkan dan membangkitkan kembali kemanusiaan-kemanusiaan kita, yang kadang sudah tergerus oleh kemajuan dan rutinitas harian dan kerasnya kehidupan di kota. Hari ini bisa kembali menikmati suasana di desa, di mana kita merangkai kembali fragmen masa kecil, atau suatu memori dan nostalgia yang layak disusun kembali. Atau memang inilah momentum untuk menyatukan makna keluarga dalam arti sebenarnya, dalam kebersamaan, kegembiraan, saling mengunjungi, saling bersilaturahmi, dan yang paling penting adalah tradisi budaya saling memaafkan. Ini sungguh luar biasa.

Bagian berikutnya setelah pulang adalah Saling Bermaafan. Ini punya efek yang dahsyat..bukan hanya antar komponen masyarakat yang terkecil yaitu keluarga dan kerabat. Tapi juga punya efek luar biasa pada kita sebagai bansa yang besar. Saling memaafkan walau serius atau tidak, akan menyelesaikan banyak problem yang sebenarnya memang bisa diselesaikan dengan itu. Walau  bukan berarti kita melupakan begitu saja kesalahan yang ada sehingga tidak ada teladan yand dipetik dari sebuah peristiwa. Bangsa ini boleh jadi pemaaf, tapi tetap tidak boleh memaafkan korupsi, terorisme, narkoba, bullying, penyebaran kebencian, fitnah,.. yang terus saja dan masih terjadi. Peristiwa-peristiwa pilu menjelang bulan Ramadhan begitu menyakitkan hati bagi warga bangsa ini. Tidak ada pemakluman dengan standar kemanusiaan yang bisa melihat bahwa tindakan-tindakan seperti kekerasan pada kemanusiaan haruslah ditindak tegas. Memang manusia bisa salah, secara kemanusiaan kita bisa saling memaafkan, tapi biarlah sistem hukum terus dan tetap bekerja.

Tapi saya percaya, para sahabat yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang baik, yang punya kekuatan untuk memaafkan. Apalagi kesalahan-kesalahan saya selama ini, yang selama ini tidak saya sadari. Biarlah dalam momentum kembali pulang ini, mari kita pulang bersama, mudik menuju kemanusiaan-kemanusiaan kita, sehingga kita bisa saling memaklumi bahwa kita bisa saja salah dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup. Tapi Keberadaan selalu memberikan jalan yang lapang untuk kembali memperbaikinya kembali…

Akhir kata. Mohon Maaf Lahir Batin Kawan.

Selamat Pulang. Selamat Lebaran 2018 1439H. Selamat Liburan..

Minal Aidin Walfaidzin.. Mohon Maaf Lahir Batin.

Rahayu, Anandam.

MOBILE ADDICT, SO SERIOUS KAH?

MOBILE ADDICT,  Se Serius itu kah?

Tulisan yang dibuat oleh Jericho dari perspektif remaja tentang kecanduan gim kemarin membuat saya ingin menuliskan Kata dan Rasa di hari ke dua ini mewakili generasi Babe die…

Sedikit banyak ketika kita bicara tentang Mobile Addiction, atau kecanduan ponsel, yang jadi tersangka pasti generasi muda. Kebetulan saja trend ML (Mobile Legends) saat ini adalah sasaran empuk untuk menembak kalangan remaja walau sebenarnya semua kalangan. Sekaligus menghakimi mereka atas kegagal pahaman kita tentang komunikasi antar generasi. Siapa sih tidak kesal, ketika kita mengantar ke sekolah pun, jangankan yang naek mobil, dibonceng naik motor pun di belakang remaja andalan masa depan kita itu anteng diam dengan earphone terpasang dan dua tangan asyik memainkan gim online, padahal itu sudah menuju ke sekolah. Disapa tidak mendengar, mata tidak lepas dari layar, dan menjawab pertanyaan sekenanya. Wajar saja, generasi ortu sekarang begitu geram melihat ini, tapi juga gelisah karena tidak tahu bagaimana mengatasi itu. Karena hanya sekedar bersikap tegas, melarang, dan keras itu bukanlah solusi komunikasi yang baik. Karena seolah-olah memposisikan kita dalam generasi bijak yang seolah tahu mana yang terbaik.

Generasi jaman Now, semua memegang ponsel dan perhatian kita tiba-tiba gelisah melihat generasi muda yang sibuk memainkan dan kecanduan  gadget. Beberapa negara yang maju sudah mulai mengangkat isu ini sebagai sesuatu yang sangat serius beberapa artikel bahkan menuliskan tentang gejala-gejala kecanduan ponsel ini,  bahwa Generasi muda sangat rentan pada kecanduan ponsel, otak manusia belum berkembang sepenuhnya sampai usia 25 tahun, sikap ketergantungan pada ponsel ini sangat berisiko pada perubahan yang negatif seperti yang sering kita lihat bersama:  Susah konsentrasi, tidak nyambung, problem gadget menjadi lebih serius dibanding kondisi badan sendiri. Remaja dengan ketergantungan ponsel sudah mulai dikategorikan seperti halnya kecanduan alkohol, riokok, dan kacaunya pola makan. Belum lagi masalah isolasi dari masyarakat sosial.

Beberapa pihak yang mengangkat hal ini pun mulai menawarkan berbagai solusi dari berbagai tips, sampai terapi pada generasi muda kita, apalagi bila gejala-gejala berikut sudah terjadi:

  • Gelisah bila batre ponsel mulai habis
  • Lebih suka terkoneksi secara online daripada berjumpa kawan-kawannya
  • Panik ketika ponsel lupa naruh entah dimana, atau tidakmendapat jaringan/koneksi wifi yang baik.
  • Tidur dengan ponsel di sebelah atau malah dibawah bantal, dalam posisi ter charge.
  • Menyetir sambil memainkan ponsel
  • Saat makan pun tidak bisa melepas mata dari ponsel.
  • Gelisah, sedikit-sedikit menoleh ke ponsel , mencari tahu siapa yang menghubungi. Padahal situasi tidak urgent.

 

Setelah membaca gejala di atas, ternyata problemnya bukanlah ada pada generasi di bawah kita saja. Jangan-jangan kita pun punya masalah yang sama, kenapa? Karena di saat yang sama, kita membeli smartphone, kita juga membelikan anak kita teknologi yang sama, dan kita punya waktu yang sama pula untuk mengurusi ponsel masing-masing daripada berkomunikasi antar generasi dengan cara yang lebih manusiawi?

Mari introspeksi bersama, bagaimana kalau kita berjujur kata pada generasi di bawah kita. Berapa banyak waktu yang kita pakai dulu untuk memainkan game baik itu dalam komputer maupun playstation? Nintendo? Tergantung umur lah, tapi u know what I mean kan? Bisa seharian kita berjam-jam memandang layar teve, apalagi yang pada ngekos jauh dari rumah, diam-diam menyisihkan uang dan waktu hanya untuk bermain console game, di gane centre sampai pagi, baik bersama teman-teman maupun sendiri, menimkati me time yang sampai mengabaikan kuliah, membolos, dan segala kenakalan remaja, yang seolah dulu tidak pernah kita lakukan. Siapa yang memprotes kita? Jelas saja, nilai sekolah, prestasi, karena semua itu harus terbayar dengan kewajiban belajar kita saat itu. Bedanya console game tidak mudah dibawa kemana-mana, dan memang kita sedang berhadapan dengan jaman yang baru. Tapi bukankah kita semua mencapai titik berhenti bermain semua itu, alias sebagian dari kita punya kemampuan dan pengalaman keluar dari adiksi ini.

Beberapa tempat sudah menawarkan bagaimana keluar dari permasalahan adiksi ponsel yang selalu saja kita cari pembenarannya, dan kita tahu bahwa inilah perkembangan teknologi yang tidak bisa kita hindari. Tapi problem kecanduan ini pun sebuah masalah yang nantinya akan menjadi serius di kemudian hari. Peraturan-peraturan berhenti berponsel, matikan ponsel, silence mode please, itu akan menjadi sama kerasnya dengan peraturan Jangan merokok. Pertanyaannya bisa kah kita mempraktekkan ini dulu? Rehat dari ponsel kita, untuk waktu yang tertentu. Relaks dan membuang semua sampah informasi yang tidak perlu, lewat relaksasi dan meditasi, mengurangi waktu kita bersosial media dan beralih untuk berkomunikasi secara sosial, membangun pertemanan yang positif dan tentunya diharapkan akan menjadi produktif. Sepertinya ini bukan hanya cara kita memandang generasi muda, tapi momentum untuk mengkoreksi diri kita bersama.

By Tunggul Setiawan.