CURHAT RAMBUT PENDEK, RAMBUT RAPI?

Hay folks, dalam katarasa kali ini kita bakal diskusi tentang peraturan sekolah yang menurut gw agak ngeselin. Mana yang benar? Rambut harus rapi atau pendek? Inget ya, disini tidak menyindir siapapun dan tidak menyerang siapapun, jangan jadi reader yang baperan dan gampang ke triggered ya…

Dari semua peraturan sekolah yang tertulis dan yang engga, gw sih paling bingung sama yang ini. Why? Ya coba deh baca aja di papan peraturan sekolah kalian, pasti tulisannya kurang lebih ‘RAMBUT SISWA HARUS RAPI’, ya kan? Emang sih peraturannya kaya gitu, tapi penerapannya gk kaya gitu men. Dari pengalaman 1 taun gw di SMA yang salah 1 peraturannya ‘rambut harus rapi’ itu pasti rambut siswa pendek, mau yang anak paskib mau yang engga, maksud gw WHY gitu? Why must we have a short hair to be called neat or tidy gitu. Bahkan pernah sekali di kelas gw itu tiba tiba razia rambut, dan rambut itu panjang dikit klo ditarik kebawah gk ngelewati dahi itu dipotong.. Sadis yah (gatau klo sekolah kalian sih, klo iya bolehlah berpendapat di komen). But that’s not The  Problem folks, masalahnya adalah ketika mereka menuntut rambut kita untuk rapi bukannya ‘pendek’, mereka, para guru yang menuntut rambut rapi justru motong rambut temen temen gw jadi pendek dan sama sekali TIDAK rapi. Mereka yang menuntut tapi mereka tidak melaksanakannya, kalian HEBAT deh, atau gw yang salah tempat yah.

Ada yang bilang kalo peraturan itu buat dilanggar, eh ada juga yang bilang peraturan buat ditaati, mana yang bener? Gw juga kaga ngarti, yang pasti untuk peraturan satu ini adalah peraturan yang paling aneh di sekolah, bukan sekedar masalah panjang atau pendek, rapi atau kaga. Masalahnya adalah, emangnya dengan rambut murid itu pendek seperti yang diinginkan terus prestasinya bisa jadi bagus gitu? Kalo emang iya, udah dari jaman SD gw potong botak kaya Avatar Aang, gw gaperlu ribet mikirin perawataan rambut, beli shampo ini itu, beli pomade, beli hair vitamin, dll yakan? IYALAH BG.

Nyatanya juga ada aja orang yang udah potong rambut rapi, pendek tapi juga prestasi B aja, malah ada yang kurang. Tapi justru banyak juga orang yang rambut mereka rapi tapi tidak pendek, atau justru tidak rapi tapi justru nilai mereka bagus. So what gitu? Menurut gw dengan membatasi aturan rambut harus rapi(pendek) itu justru menekan kebebasan (enaaaakk). Sekolah sekolah yang tidak mengurusi tentang rambut muridnya justru adalah sekolah yang bagus menurut gw, contohnya? Kolose De Britto di jogja, sekolah itu gk hanya membebaskan murid dalam hal rambut tapi juga bebas dalam berseragam. Dan apa hasilnya? Justru prestasi murid disana lebih bagus daripada sekolah yang menekankan peraturan tentang rambut harus rapi. Jadi? Kesimpulannya? So,  bebaskan rambut kami karena ini hak kami dan juga ini tidak memengaruhi prestasi kami.

‘Tapi kan para guru ingin agar muridnya tertib dan patuh pada aturan’. Dipatuhi, memang sih lebih mudah ngatur sekian banyak murid yang nurut. Lagipula bisa dipahami, trend potong rambut yang keren dan sesuai barbershop modern tidak akan semudah itu dipahami pihak sekolah kan? Apalagi rambut diwarnai, rambut ditata se keren itu bisa menimbulkan kesenjangan apapun itu? Lebih keren tampak lebih kaya? Lah pengamen-pengamen di jalanan itu rambutnya diwarna semua, koq.. ah sudahlah.

Tertib itu gk hanya tertekan pada satu hal sih. Lu dateng sekolah tepat waktu, tertib. Lu mengumpulkan tugas tepat waktu, tertib,lu ikut upacara pake atribut lengkap, tertib,lu ke sekolah pake seragam sesuai aturan, tertib, kurang apa lagi gitu? Dengan segala ketertiban yang sudah dijalani apa kurang? Kami bersekolah itu untuk berkembang, bukan untuk dididik harus patuh. So, Pls Bapak Ibu Guru yang baik Bebaskanlah kami dalam beberapa aspek gitu, kalo boleh yang sektor ini deh..kami toh tetap always respect the Teacher. Sebuah perasaan yang tertahan selama setahun ngadepin Razia Rambut dadakan. Ato memang nasib gw harus nunggu lulus dulu..

Jericho

MOBILE ADDICT, SO SERIOUS KAH?

MOBILE ADDICT,  Se Serius itu kah?

Tulisan yang dibuat oleh Jericho dari perspektif remaja tentang kecanduan gim kemarin membuat saya ingin menuliskan Kata dan Rasa di hari ke dua ini mewakili generasi Babe die…

Sedikit banyak ketika kita bicara tentang Mobile Addiction, atau kecanduan ponsel, yang jadi tersangka pasti generasi muda. Kebetulan saja trend ML (Mobile Legends) saat ini adalah sasaran empuk untuk menembak kalangan remaja walau sebenarnya semua kalangan. Sekaligus menghakimi mereka atas kegagal pahaman kita tentang komunikasi antar generasi. Siapa sih tidak kesal, ketika kita mengantar ke sekolah pun, jangankan yang naek mobil, dibonceng naik motor pun di belakang remaja andalan masa depan kita itu anteng diam dengan earphone terpasang dan dua tangan asyik memainkan gim online, padahal itu sudah menuju ke sekolah. Disapa tidak mendengar, mata tidak lepas dari layar, dan menjawab pertanyaan sekenanya. Wajar saja, generasi ortu sekarang begitu geram melihat ini, tapi juga gelisah karena tidak tahu bagaimana mengatasi itu. Karena hanya sekedar bersikap tegas, melarang, dan keras itu bukanlah solusi komunikasi yang baik. Karena seolah-olah memposisikan kita dalam generasi bijak yang seolah tahu mana yang terbaik.

Generasi jaman Now, semua memegang ponsel dan perhatian kita tiba-tiba gelisah melihat generasi muda yang sibuk memainkan dan kecanduan  gadget. Beberapa negara yang maju sudah mulai mengangkat isu ini sebagai sesuatu yang sangat serius beberapa artikel bahkan menuliskan tentang gejala-gejala kecanduan ponsel ini,  bahwa Generasi muda sangat rentan pada kecanduan ponsel, otak manusia belum berkembang sepenuhnya sampai usia 25 tahun, sikap ketergantungan pada ponsel ini sangat berisiko pada perubahan yang negatif seperti yang sering kita lihat bersama:  Susah konsentrasi, tidak nyambung, problem gadget menjadi lebih serius dibanding kondisi badan sendiri. Remaja dengan ketergantungan ponsel sudah mulai dikategorikan seperti halnya kecanduan alkohol, riokok, dan kacaunya pola makan. Belum lagi masalah isolasi dari masyarakat sosial.

Beberapa pihak yang mengangkat hal ini pun mulai menawarkan berbagai solusi dari berbagai tips, sampai terapi pada generasi muda kita, apalagi bila gejala-gejala berikut sudah terjadi:

  • Gelisah bila batre ponsel mulai habis
  • Lebih suka terkoneksi secara online daripada berjumpa kawan-kawannya
  • Panik ketika ponsel lupa naruh entah dimana, atau tidakmendapat jaringan/koneksi wifi yang baik.
  • Tidur dengan ponsel di sebelah atau malah dibawah bantal, dalam posisi ter charge.
  • Menyetir sambil memainkan ponsel
  • Saat makan pun tidak bisa melepas mata dari ponsel.
  • Gelisah, sedikit-sedikit menoleh ke ponsel , mencari tahu siapa yang menghubungi. Padahal situasi tidak urgent.

 

Setelah membaca gejala di atas, ternyata problemnya bukanlah ada pada generasi di bawah kita saja. Jangan-jangan kita pun punya masalah yang sama, kenapa? Karena di saat yang sama, kita membeli smartphone, kita juga membelikan anak kita teknologi yang sama, dan kita punya waktu yang sama pula untuk mengurusi ponsel masing-masing daripada berkomunikasi antar generasi dengan cara yang lebih manusiawi?

Mari introspeksi bersama, bagaimana kalau kita berjujur kata pada generasi di bawah kita. Berapa banyak waktu yang kita pakai dulu untuk memainkan game baik itu dalam komputer maupun playstation? Nintendo? Tergantung umur lah, tapi u know what I mean kan? Bisa seharian kita berjam-jam memandang layar teve, apalagi yang pada ngekos jauh dari rumah, diam-diam menyisihkan uang dan waktu hanya untuk bermain console game, di gane centre sampai pagi, baik bersama teman-teman maupun sendiri, menimkati me time yang sampai mengabaikan kuliah, membolos, dan segala kenakalan remaja, yang seolah dulu tidak pernah kita lakukan. Siapa yang memprotes kita? Jelas saja, nilai sekolah, prestasi, karena semua itu harus terbayar dengan kewajiban belajar kita saat itu. Bedanya console game tidak mudah dibawa kemana-mana, dan memang kita sedang berhadapan dengan jaman yang baru. Tapi bukankah kita semua mencapai titik berhenti bermain semua itu, alias sebagian dari kita punya kemampuan dan pengalaman keluar dari adiksi ini.

Beberapa tempat sudah menawarkan bagaimana keluar dari permasalahan adiksi ponsel yang selalu saja kita cari pembenarannya, dan kita tahu bahwa inilah perkembangan teknologi yang tidak bisa kita hindari. Tapi problem kecanduan ini pun sebuah masalah yang nantinya akan menjadi serius di kemudian hari. Peraturan-peraturan berhenti berponsel, matikan ponsel, silence mode please, itu akan menjadi sama kerasnya dengan peraturan Jangan merokok. Pertanyaannya bisa kah kita mempraktekkan ini dulu? Rehat dari ponsel kita, untuk waktu yang tertentu. Relaks dan membuang semua sampah informasi yang tidak perlu, lewat relaksasi dan meditasi, mengurangi waktu kita bersosial media dan beralih untuk berkomunikasi secara sosial, membangun pertemanan yang positif dan tentunya diharapkan akan menjadi produktif. Sepertinya ini bukan hanya cara kita memandang generasi muda, tapi momentum untuk mengkoreksi diri kita bersama.

By Tunggul Setiawan.

 

 

‘ML Yok!’

Katarasa hari pertama..

‘ML Yok!’

By : Jericho

Bayangin hayo.. apa yang muncul pas kita ketika denger ajakan usil  itu? mungkin beberapa kepikiran ‘ML’ itu ya Making Love. Bener sih, apalagi kalo lanjut dipikir ngeres ya jadi tabu, jorok, nggak pantas diceplosin sembarangan apalagi di kategori umum. Apalagi yang dari generasi bapak gue bisa ngomel nggak keruan kalo denger kita ngajak ML. Tapi, menurut gue ya, seiring perkembangan zaman arti ‘ML’ pun udah berubah dari ‘Making Love’ menjadi ‘Mobile Legends’, itu loh game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) Analog yang kerap dimainin segala kalangan dari kecil sampai dewasa, eh bahkan gue sendiri juga ikutan kecanduan MOBA Analog ini. So, nggak usah heran kalo anak zaman now sering nyeplos ‘coy, MLan yoh..’ karena memang itulah yang akan dilakukan, Maen Gim Mobile Legends!

Eh, tulisan ini bukan mau sok-sokan ngasih tips atau hal-hal seperti itu loh, bisa dimarah-marah sama Pro Player nanti, ini hasil diskusi sama babe gue pagi tadi membahas bebas gimana sih gim ini sampe bikin kategori anak, remaja bahkan orang dewasa sampe kecanduan main? Sampe kemungkinan bagaimana nanti kita para ‘melers’ bisa berhenti dari kecanduan main game satu ini dan tentu saja dari berbagai macam perspektif lah.

Oke, pertama Kecanduan ML. Apa sih penyebab players sampe segitu ketagihannya. Rela  Spending So many time, layak atau buang banyak waktu yang berharga hanya untuk mendapatkan bintang dan menaikkan rank? Gue juga player ML nih namun rasanya sih belum sampe segitunya. Menghabiskan begitu banyak waktu duduk berjam-jam atau tiduran dan memandang layar hp untuk bermain lagi dan lagi.  Koq kepikiran juga ya, apa selama ini gue  hidup untuk ngegim dan realitas gim bukan kehidupan gue yang aseli? Apa sudah kebalik? Lalu pantes nggak sih kita spend semua waktu itu? Alasan dari kita sih bisa beragam banget, tapi kalo ditanya tujuan maen? Nah rasanya ini akan mulai keraba deh.. Apakah karena kita pingin menjadi Pro Player yang tentu bikin terkenal? Apa kita ini sebenarnya hanya kesal karena sering mendapatkan tim bocah? Yah apapapun itu, adalah alasan dari pribadi anda masing masing. Tapi perlu kita pikirin tujuannya ngapain ya ML terus? Diulang lagi-diulang lagi sampai kapan? Pasti nanti ada titik Jenuhnya. Entah kapan ya…

So Ada berentinya nggak nih? Gue sih tenang aja banyak temannya sih..  Mama gue yang nggak maen ML  ini yang uring-uringan terus, walo dengan penuh kasih dan omelan sayang, tetap mensupport gue pulsa. Tapi ngelihat gue asyik ber ML itu nada tinggi tiap hari, plus penghakiman, nggak konsen, nggak belajar, kecanduan gadget, jadi bahasan gossip dan keluhan harian di pertemuan emak-emak para ortu di setiap kesempatan maupun grup WA tentunya.

 Kepikiran sih,  suatu saat kita ini Players yang budiman berhenti bermain suatu saat nanti, ato dipaksa berenti?  Mungkin aja loh, ini kan teknologi man.. banyak faktor, Apa karena gim ini sudah nggak laku lagi seperti Clash of Clans (COC) dulu pernah maen kan? Apa karena yang lebih bagus sehingga mnggantikan posisi ML seperti game apalah pokoknya yang terbaik? Yang pasti belum pada tahu gimana nasib akhir dari game ini. Seperti kita ketahui  game inipun masih berkembang dan belum mencapai masa puncak primanya. Maybe game ini masih memiliki waku 2 sampai 3 tahun lagi sampai akhirnya game ini bisa tergeser posisinya dan hilang. Kembali lagi sebenarnya kapan sih kita ini players sampai di titik berhenti. Jenuh? Atau tujuan tercapai?  karena ada saja pemain top global yang bisa bermain hingga memiliki beribu ribu bintang ‘hanya’ untuk ndapetin gelar Top Global Season? Atau memang itu layak?

Is it that important for me to spent all those time hanya untuk terus bermain? Kaya di film Ready Player One itu? Atau sebenarnya kepikiran juga why not do something more productive? Untuk kedepannya? Dimanakah Titik jenuh ini? Nunggu sampai kita Lose Streak berkali-kali sampai frustasi? Awas depresi loh… dimana akhirnya akan berhenti untuk bermain. Baru start doing things, productive things ato.. kita cari gim laen lagi, maen lagi. Terus begitu dalam lingkaran ilusif yang tak kunjung kita putus.  Yuk bantu mikirin gimana nanti hidup kita setelah lelah ber ML, dan mulai MAKE LIFE,  menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat sehingga kita cukup jadi manfaat bagi dunia nyata.

Ini tulisan gw yang pertama, komentarnya boleh coy…